Gus Abbas Bahas Polemik Tes DNA, Nasab Habaib, Nusron Wahid dan Buya Yahya
Wawancara itu dilakukan bersama seorang anggota Banser Cirebon yang mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai pernyataan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Pengasuh Pesantren Al-Bahjah Cirebo Buya Yahya terkait tes DNA dan nasab habaib. Dalam percakapan tersebut, Gus Abbas menjelaskan pandangannya mengenai dasar ilmiah dan keagamaan penggunaan tes DNA untuk memastikan nasab klan tertentu terkait nasab Rasulullah atau tidak.
Pertanyaan Tentang Tes DNA Nasab Habaib
Pada awal wawancara, pewawancara menanyakan tanggapan Gus Abbas mengenai pernyataan Nusron Wahid yang disebut menentang tes DNA bagi kalangan habaib. Pewawancara juga menyinggung pernyataan Buya Yahya yang juga dinilai menolak atau mengkritik gagasan tersebut.
Pewawancara kemudian membandingkan dua hal, yakni penggunaan tes DNA untuk mencari kepastian nasab dengan tindakan sebagian oknum yang mengaku sebagai keturunan Rasulullah namun dinilai memiliki sikap kasar kepada orang lain.
Menurut pewawancara, terdapat oknum yang menyebut ulama dan kiai tanpa gelar penghormatan serta menggunakan kata-kata yang dianggap tidak pantas. Hal itu kemudian dijadikan dasar pertanyaan mengenai mana yang lebih layak dipersoalkan, penggagas tes DNA atau perilaku buruk tersebut.
Gus Abbas Soroti Dasar Keilmuan
Menanggapi pertanyaan tersebut, Gus Abbas mempertanyakan dasar keilmuan pihak-pihak yang memberikan komentar mengenai masalah nasab. Ia menyebut persoalan nasab merupakan bidang khusus yang memerlukan kompetensi tertentu.
Menurut Gus Abbas, Nusron Wahid bukan ahli nasab, ahli hadis, maupun ahli tafsir. Karena itu, ia mempertanyakan alasan Nusron Wahid ikut berbicara secara mendalam mengenai persoalan nasab.
Ia juga menyinggung Buya Yahya dengan menyatakan bahwa persoalan nasab seharusnya dibahas oleh pihak yang memiliki spesialisasi di bidang tersebut. Dalam wawancara itu, Gus Abbas mengatakan dirinya memiliki spesialisasi dalam bidang tafsir dan hadis sehingga untuk persoalan nasab ia memilih mendengarkan penjelasan dari Kiai Imad yang dianggap memiliki kompetensi di bidang tersebut.
Gus Abbas menegaskan bahwa dirinya menghormati bidang keilmuan masing-masing. Ia menyebut pendekatan ilmiah perlu dikedepankan dalam membahas persoalan nasab.
Menyinggung Bahsul Masail NU
Dalam penjelasannya, Gus Abbas menyebut persoalan tes DNA sebenarnya sudah pernah dibahas dalam forum Bahsul Masail Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, pembahasan mengenai penggunaan metode ilmiah untuk memastikan nasab bukanlah hal baru.
Ia mengatakan dalam tradisi fikih terdapat konsep “qiafah” yang digunakan untuk membantu menentukan nasab ketika terjadi keraguan atau perbedaan keterangan.
Menurut Gus Abbas, konsep tersebut memiliki kemiripan dengan penggunaan tes DNA pada masa modern. Ia menyebut hukum asal penggunaan metode tersebut adalah boleh.
Dalam wawancara itu, Gus Abbas menjelaskan beberapa kondisi yang memungkinkan penggunaan metode ilmiah seperti tes DNA. Salah satunya ketika tidak ada bukti atau saksi yang kuat terkait penetapan nasab.
Kondisi lainnya adalah ketika terdapat pertentangan bukti atau saksi mengenai suatu nasab. Dalam keadaan seperti itu, menurut penjelasan Gus Abbas, penggunaan tes DNA diperbolehkan sebagai sarana pendukung.
Menyinggung Monopoli Klaim Nasab
Selain membahas aspek ilmiah, Gus Abbas juga menyinggung adanya dugaan monopoli klaim keturunan Rasulullah oleh sebagian kelompok. Ia menyebut ada oknum yang beranggapan bahwa keturunan Rasulullah hanya berasal dari golongan tertentu.
Menurutnya, terdapat sebagian pihak yang menganggap seseorang tidak bisa disebut habib apabila tidak tercatat dalam organisasi tertentu. Gus Abbas menilai pandangan semacam itu dapat memunculkan polemik di tengah masyarakat.
Ia juga mengatakan bahwa tidak semua habaib memiliki pandangan yang sama. Dalam keterangannya, Gus Abbas menyebut hanya ada sebagian oknum yang dinilainya melakukan tindakan demikian.
Soroti Sikap Sebagian Oknum
Dalam wawancara tersebut, Gus Abbas juga menyinggung perilaku sebagian oknum yang menurutnya sering memanggil tokoh agama tanpa gelar penghormatan. Ia mencontohkan penyebutan nama beberapa tokoh nasional dan ulama hanya dengan nama depan atau menggunakan kata “si”.
Menurutnya, tindakan seperti itu menimbulkan kegaduhan dan menjadi sorotan masyarakat. Gus Abbas menyebut kondisi tersebut dapat memicu fitnah di tengah umat karena dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai keturunan Rasulullah.
Ia mengatakan masyarakat kemudian mempertanyakan sikap tersebut karena dianggap tidak sesuai dengan penghormatan terhadap ulama dan tokoh agama.
Penjelasan Tentang Hukum Tes DNA
Dalam penjelasannya, Gus Abbas mengutip sejumlah kaidah ushul fikih untuk menjelaskan pandangannya mengenai tes DNA. Ia menyebut penggunaan metode ilmiah dapat menjadi sarana untuk memastikan nasab demi menghindari keraguan di masyarakat.
Menurutnya, penghormatan kepada keturunan Rasulullah merupakan sesuatu yang dianggap penting dalam tradisi Islam. Karena itu, ia menilai kepastian nasab juga perlu dijaga.
Gus Abbas menyebut dalam kondisi tertentu tes DNA dapat menjadi sarana untuk menghilangkan fitnah dan keraguan. Ia mengutip kaidah “al-wasail fi hukmil maqashid”, yang berarti hukum sarana dapat mengikuti hukum tujuan.
Dalam penjelasannya, ia mengatakan apabila menghormati keturunan Rasulullah dianggap wajib, maka sarana untuk memastikan nasab juga dapat memiliki kedudukan hukum yang penting.
Ia juga mengutip kaidah “ma la yatimmul wajib illa bihi فهو wajib”, yang bermakna sesuatu yang menjadi penyempurna kewajiban dapat ikut menjadi wajib.
Menilai Tes DNA Sebagai Bagian dari Pendekatan Ilmiah
Gus Abbas menegaskan bahwa tes DNA sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pendekatan ilmiah, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Menurutnya, perkembangan kajian ilmiah mengenai nasab sebaiknya terus dipantau dan dibahas secara terbuka.
Ia juga meminta agar perdebatan mengenai masalah tersebut dilakukan secara ilmiah dan tidak melalui narasi provokatif. Dalam wawancara itu, Gus Abbas menyinggung adanya potongan podcast atau video yang dianggap tidak utuh sehingga dapat memunculkan kesalahpahaman di masyarakat.
Menurutnya, pembahasan mengenai nasab perlu dilakukan secara objektif dan adil tanpa saling menyerang secara personal.
Seruan Untuk Mengedepankan Diskusi Ilmiah
Di akhir keterangannya, Gus Abbas mengajak semua pihak untuk membiarkan kajian ilmiah berjalan sesuai prosesnya. Ia mengatakan apabila terdapat perbedaan pandangan, maka hal itu sebaiknya dibahas melalui diskusi ilmiah.
Ia juga meminta masyarakat untuk tidak mudah membuat narasi yang dianggap dapat memperkeruh suasana. Menurutnya, polemik mengenai nasab dan tes DNA seharusnya menjadi ruang dialog ilmiah, bukan ajang saling menyerang.
Wawancara tersebut kini ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial dan memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Polemik mengenai tes DNA nasab habaib pun masih terus menjadi perhatian publik hingga saat ini. (Qodrat Arispati)
Simak video lengkap di YouTube:

